MERDEKA BELAJAR ALA BU KANJENG

KACAMATA BU KANJENG TENTANG MERDEKA BELAJAR
 Oleh: Sri Sugiastuti  

"Belajar dari kemarin, hidup untuk sekarang, berharap untuk besok. Hal yang paling penting adalah jangan berhenti bertanya." 

Menurut Bu Kanjeng kutipan di atas sangat cocok untuk melecutkan semangat belajar di era covid saat ini. Bertanya dan memiliki rasa ingin tahu yang besar bisa menjadi modal untuk bergerak dan menerapkan “ Merdeka Belajar Yang sedang ngehits saat ini. Telah dinyatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang mengeluarkan empat inisiatif program 'Merdeka Belajar'. 

Nadiem mengungkapkan empat hal ini adalah langkah awal mencapai kemerdekaan belajar. Yang intinya ada pada penyederhanaan kurikulum hingga kesejahteraan guru. Seperti diketahui, Nadiem mengungkapkan empat strategi kebijakannya adalah soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Zonasi. Menurutnya, perubahan kebijakan ini adalah langkah pertama dalam menciptakan kemerdekaan belajar di Indonesia. Menurut Mas Menteri ada dua poin terpenting dalam pendidikan, yaitu merdeka belajar dan guru penggerak. Merdeka belajar artinya guru dan muridnya memiliki kebebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Untuk lebih jelasnya, kacamata Bu Kanjeng berselancar hingga menemukan apa kata pakar tentang merdeka belajar. 

Menurut Rian Iwinsyah (2020) merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia dan suasana yang happy. Tujuan merdeka belajar adalah agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia. “Merdeka belajar itu bahwa proses pendidikan harus menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan.” So sweet ya. Selanjutnya dibahas juga bagaiana sebaiknya agar bisa segera dilaksananakan. Muncul banyak pertanyaan Lalu mengapa merdeka belajar perlu segera diterapkan?

 Apakah anak-anak sekarang belajar dalam kondisi tidak merdeka dan tidak bahagia? Menjawab pertanyaan ini barangkali kita bisa merefleksi potret proses KBM yang bisa jadi membelenggu sebagian siswa di kelas, diantaranya: sebagian guru lebih banyak menggunakan metode ceramah di kelas yang pastinya membuat siswa jenuh, anak-anak masih menjadi objek dalam belajar sehingga mereka kurang kreatif karena proses KBM masih didominasi guru, anak-anak sibuk mengerjakan berbagai tugas yang diberikan guru termasuk PR, sumber belajar yang digunakan di kelas masih sangat terbatas, umumnya baru memanfaatkan buku paket saja sehingga siswa kurang diberi peluang untuk mencari bahan dari berbagai sumber selain buku paket. Sudah saatnya kita beralih ke “Merdeka Belajar” dengan menjawab tantangan yang ada. 

Nah, dalam hal ini yang perlu dikembangkan adalah guru sebagai kunci utama keberhasilan merdeka belajar baik bagi siswa maupun gurunya sendiri. Tantangan selanjutnya adalah, “Bagaimana menyediakan guru-guru kompeten yang dapat memberikan kemerdekaan belajar?”. Mendikbud, memberikan solusi sederhana, yaitu: “Mulailah dari melakukan perubahan kecil” yang dilakukan oleh “guru penggerak”. Guru-guru perlu didorong untuk menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif yang memungkinan siswa belajar lebih merdeka sesuai kemampuan dan potensinya. Terlebih model pembelajaran yang memanfaatkan perkembangan TIK yang sudah sangat berkembang pesat dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Dengan TIK proses pembelajaran akan terjadi dengan mudah dan sangat memungkinkan siswa untuk belajar mandiri dan pastinya belajar lebih membahagiakan karena pastinya anak-anak lebih termotivasi belajar dengan teknologi terutama internet dan gadget. 

Oleh karenanya, untuk mewujudkan hal ini, guru harus memiliki kemampuan mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Dalam hal ini, keberadaan TIK bukan sebagai mata pelajaran, tapi terintegrasi dalam pembelajaran. Ada banyak model-model pembelajaran inovatif yang memanfaatkan TIK dalam pembelajaran salah satunya model pembelajaran. Dalam Modul Model Pembelajaran Blended Learning, Pustekkom, 2019 disebutkan menurut Garner & Oke (2015), pembelajaran Blended Learning merupakan sebuah lingkungan pembelajaran yang dirancang dengan menyatukan pembelajaran tatap muka (face to face/F2F) dengan pembelajaran online yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sementara menurut Harding, Kaczynski dan Wood (2005), Blended Learning Merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online (terutama yang berbasis web) dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa. Dengan pelaksanaan blended learning ini, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. 

Sedangkan Driscoll (2002) menyebutkan empat konsep mengenai pembelajaran blended learning yaitu: a) Blended learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan. b) Blended learning merupakan kombinasi dari berbagai pendekatan pembelajaran (seperti behaviorisme, konstruktivisme, kognitivisme) untuk menghasilkan suatu pencapaian pembelajaran yang optimal dengan atau tanpa teknologi pembelajaran. c) Blended learning juga merupakan kombinasi banyak format teknologi pembelajaran, seperti video tape, CD-ROM, webbased training, film) dengan pembelajaran tatap muka. d) Blended learning menggabungkan teknologi pembelajaran dengan perintah tugas kerja aktual untuk menciptakan pengaruh yang baik pada pembelajaran dan tugas. Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat disimpulkan model blended learning itu adalah model pembelajaran yang memadukan antara pembelajaran dengan tatap muka di kelas seperti biasa dengan pembelajaran online (maya).

 Jadi dalam prosesnya selain siswa belajar di kelas sesuai jadwal yang sudah dibuat tetapi ada pembelajaran online yang dilakukan diluar jam belajar. Belajar online bisa dimanfaatkan untuk pemberian materi atau informasi dari guru terkait materi, forum diskusi, pemberian tugas dan pengumpulan tugas oleh siswa. Bagi guru yang ingin menerapkan pembelajaran dengan Blended Learning bisa mengamati atau memegang kunci suksesnya yang dijelaskan oleh Carmen (2005) menjelaskan lima kunci utama dalam proses pembelajaran blended learning dengan menerapkan teori pembelajaran Keller, Gagné, Bloom, Merrill, Clark dan Gery yaitu: (1) Live Event, pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama ataupun waktu sama tapi tempat berbeda, (2) Self-Paced Learning, yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan siswa belajar kapan saja, dimana saja secara online, (3) Collaboration, mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi guru-siswa maupun kolaborasi antar siswa, (4) Assessment, guru harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen online dan offline baik yang bersifat tes maupun non-tes (proyek kelas) dan (5) Performance Support Materials, pastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, dapat diakses oleh siswa baik secara offline maupun online. 

(Model Pembelajaran Blended Learning, Pustekkom, 2019). Dalam pelaksanaan blended learning terutama fasilitas untuk pembelajaran onlinenya guru bisa memanfaatkan berbagai layanan Sistem pembelajaran yang menggunakan Learning Management System (LMS). Menurut Ellis (2009: 1) LMS adalah aplikasi perangkat lunak untuk administrasi, dokumentasi, pelacakan, pelaporan dan penyampaian kursus pendidikan atau program pelatihan. LMS dapat dikatakan sebuah managemen pembelajaran yang disiapkan untuk siswa dan guru dalam melakukan pembelajaran melalui perangkat lunak. Adapun perangkat lunak LMS yang bisa digunakan antara lain: Moodle, Canvas, Google Classroom, edmodo, Kelas Digital Rumah belajar, Blog dan lain-lain. 

 Berbagai layanan LMS tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru secara gratis maupun berbayar tinggal mempelajari dan memanfaatkannya dalam memfasilitasi pembelajaran online. Pembelajaran online dalam blended learning ini bisa dimaksimalkan oleh guru untuk memungkinkan siswa belajar lebih mandiri, tidak terikat waktu dan tempat bisa kapanpun dan di manapun sesuai kesanggupan siswa, dan ini bisa jadi solusi terbatasnya waktu di kelas yang sering jadi keluhan sebagian guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. 

 Dari hasil berselancar dan menggunakan Teknologi literasi Bu Kanjeng sudah bisa memberikan sedikit pencerahan untuk mengkondisikan Merdeka Belajar yang memiliki makna luas. Pada akhirnya memang kembali lagi kepada gurunya. Sebenarnya dengan Merdeka Belajar guru semakin tertantang untuk semakin sadar literasi, melek IT, mau berkolaborasi dan selalu open mnded. Yuk Merdeka Belajar. 

Referensi 
Ellis, Ryann K. (2009). Field Guide to Learning Management System. American Society for Training & Development (ASTD) Purwanto, dkk. (2019). Rancangan Model Pembelajaran Blended Learning dengan Media Blog. Pustekkom Rian Iwinsyah. (2020). Menakar Konsep “MERDEKA BELAJAR” https://intens.news/menakar-konsep-merdeka-belajar/

Post a Comment

34 Comments

  1. Sangat mencerahkan dan menginspirasi tulisan Ibu, tetap berikan yang terbaik untuk negeri lewat literasi.😊👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merdeka Belajar itu harus diwujudkan dan hasilnya harus cetar

      Delete
  2. Benar sekali Bunda, peran guru sangat besar. mantap.

    ReplyDelete
  3. Mantap bun ...sangat mencerahkan terutama saya sebagai seorang guru ..terima kasih bunda

    ReplyDelete
  4. Betul sekali bun, smakin tercerahkan..🙏

    Sehat selalu bunda 🤩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin YRA. Tercurah doa yang sama untuk ibu sekeluarga

      Delete
  5. suwun njiih bu kanjeng atas pencerahannya..

    ReplyDelete
  6. Matur suwun Bun lengkap tulisannya. Semoga terwujud merdeka belajar.

    ReplyDelete
  7. Betul banget Bun.....peran guru tak tergantikan.untuk itu gurunharus cerdas.manfaatkan TIK dalam pembelajaran.variasi model pembelajaran...
    Terima kasih sudah menggugah ( kirim ulang) sudah koment tadi kok hilang?

    ReplyDelete
  8. Terimakasih bun, sudah memberikan inspirasi lagi...

    ReplyDelete
  9. Belajar banyak dari artikel ini, terimakasih bu kanjeng

    ReplyDelete
  10. Akhirnya kembali berpulang ke gurunya....betul bunda 👍👍

    ReplyDelete
  11. Mantaap Buu, sudah banyak membantu mencerahkan banyak guru, saya ijin share njih. Singkat, padat, dan mencerahkan sekali. Guru juga harus banyak belajar ya bu untuk mewujudkan pembelajaran blended learning yang bagus. Kereeen bu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo Bun, Merdeka Belajar bisa dilanjutkan fleksibel yg penting tujuan tercapai

      Delete
  12. Trimakasih bu Kanjeng telah memberi pencerahan

    ReplyDelete
  13. Mencerahkan, jadi paham substansi "Merdeka Belajar", yaitu situasi belajar yang membahagiakan bagi guru dan siswa, tanpa melepaskan begitu saja aspek kualitas, efektifitas dan efesiensi.

    ReplyDelete
  14. Merdeka belajar yang menyenangkan. Tujuan belajar pun tercapai di tangan guru yang terbuka terhadap perubahan. Trrima kasih atas pencerahannya, Bu Kanjeng.

    ReplyDelete
  15. Menulis sebagai passion, benar sekali bunda, jadi menikmati tanpa beban, kita yg tua saya harus belajar belajar terus...

    Mantapp🙏💪💪

    ReplyDelete
  16. Apapun pendekatan belajar, peran guru tetap tak tergantikan dengan media. Media sebagai jembatan penyeberangan antara guru penyaji materi dengan siswa penerima materi. Pada Jembatan yang sama ada interaksi walau butuh ketrampilan literasi difital

    ReplyDelete
  17. Tulisan yang dikemas Bu Kanjeng selalu ada informasi penting untuk dibaca. Jadi makin semangat nih

    ReplyDelete
  18. Merdeka belajar perlu kolaborasi antara guru, siswa dan orangtua,. juga institusi sekolah

    ReplyDelete