DWI LESTARI

Dwi Lestari

Sri Sugiastuti

"Mba, mau ngga saya ajak beribadah haji tahun ini?" Suara Dwi di telpon dari warnet tempat Pratiwi bicara mengagetkan jantungnya. Saat itu ia berada di pasar Klewer membeli pesanan ibunya. Bu Ambarwati yang biasa meminta Pratiwi membelikan barang yang dibutuhkan Bu Ambarwati yang sudah tua tetapi masih saja melayani temannya bila ada yang memesan sesuatu dari Solo. Pesanan makanan khas Solo dari mulai srundeng sampai sambal pecel. Kadang menjelang Lebaran ada sarung atau kain batik dan daster. 

Lutut Pratiwi terasa lunglai. Ia bersegera ke masjid Agung, berwudu dan sujud syukur sekaligus menunaikan salat asar. Masih terngiang ucapan Dwi Lestari adiknya yang berniat mengajak Pratiwi dan ibunya beribadah haji. Pratiwi diminta segera ke Jakarta untuk mengurus paspor dan pernak pernik perlengkapan administrasi Ibadah haji. 

Sampai di rumah Pratiwi meminta izin kepada suaminya, bahwa ia diajak adiknya bersama ibunya menunaikan ibadah haji tahun ini. 

"Alhamdulillah, segera saja disiapkan keperluannya. Aku ikut bersyukur, di usia yang masih prima Allah mudahkan untuk beribadah haji, apalagi adikmu mau membiayai semuanya, " jawab Ardani suami Pratiwi. 

"Iya Mas, alhamdulillah. Padahal tabungan hajiku yang ada di bank baru 600 ribu rupiah. Aku baru menabung tiga kali tiap bulan sebesar 200 rb. Anganku kelak saat pensiun tabungan itu sudah cukup untuk biaya ibadah haji." Ucap Pratiwi. 

" Eh, tapi Jeng, ingat ngga waktu ikut raker di kelurahan yang menyebut namamu dengan embel- embel " Hajah"? Dan kuyakini itu sebuah doa yang kuamini, " Ardani mengingat peristiwa beberapa waktu lalu saat mengantar Pratiwi ke kelurahan. 

" Yaa Allah begitu cepat Kau memanggilku menjadi tamu-Mu. Izinkan hamba-Mu meluruskan niat beribadah di Makkah dan Madinah karena kewajibanku, walaupun dalam segi finansial aku belum mampu. Mudahkan ibadah itu karena ada ibu yang pasca stroke yang harus kudampingi dalam beribadah haji." Pratiwi berkomunikasi dengan sang Khalik yang Maha Kuasa. 

Pratiwi mengambil izin dua hari untuk ke Jakarta membuka tabungan haji sebagai syarat  mendapatkan nomer kursi. Alhamdulillah Dwi dan suaminya mengurus semua dengan baik. Pratiwi tinggal tanda tangan dan mengisi berkas untuk kelengkapan lainnya. Tanpa antri di musim haji awal Januari 2006,  mereka berangkat menunaikan ibadah haji. 

" Dik, kok tiba- tiba, Ibu mau diajak ibadah haji?" Tanya Pratiwi kepada adiknya sambil menyelesaikan sarapan nasi uduk kesukaannya. 

" Saya juga heran waktu Ibu saya ajak langsung oke. Saya jelasinnya sederhana banget. Bu, saya mau ibadah haji bareng mas Arya dan Ibu. Saya sudah dua kali ibadah haji secara gratis difasilitasi Departemen Kesehatan, Mas Arya juga sudah beberapa kali ibadah haji karena kuliah di India dan sering jadi tenaga musiman membantu jamaah haji di sana. Jadi sudah saatnya ibu saya ajak. Tidak bisa menolak lagi. " Pinta Dwi kepada Bu Ambarwati ibunya. 

" Aku siap Nduk, tapi mbayumu Tiwi diajak ya! " Ucap Bu Ambarwati penuh harap. 

Itulah yang menjadi alasan Pratiwi diajak ibadah haji oleh adiknya. Jadi mereka berempat mendapat kesempatan sebagai jemaah haji gelombang dua dan masuk kloter terakhir yang keberakatnya diantar oleh gubernur DKI Jakarta. Waktu itu yang menjabat Bapak Sutiyoso. 

Pratiwi selalu bersyukur kepada Allah memiliki adik yang sangat peduli dengan ibu dan saudaranya. Dwi yang diberi rezeki pas-pasan bisa mengajak ibu dan mbayunya ibadah haji. 

Sebelum diajak ibadah haji, Pratiwi juga pernah diajak ke Singapura dan Kuala Lumpur cukup berbekal paspor, nikmat sehat dan sempat dan yang terpenting izin suami. 

Dwi Lestari di mata Pratiwi memang sosok yang unik sejak kecil, Pratiwi yang tumbuh bersamanya paham betul sifat dan kebiasaannya. Kalau Pratiwi senang bermain peran bersama teman - temannya, dimana ia berperan sebagai guru. Bu Ambarwati yang sering mengamati sikap anaknya bertanya Apakah anak ini kelak menjadi guru? 

Sementara anak perempuan kedua Bu Ambarwati, punya kebiasaan yang cukup unik. Saat kecil sudah menderita asma. Perawatannya juga ekstra hati- hati. Kebiasaan menghisap ibu jari tangan kanan sambil memelitir kapuk yang diambil dari bantal atau guling yang mereka miliki. Kebiasaan itu pertanda anaknya menjadi dokter yang berhubungan dengan kapas saat menyuntik pasiennya. 

Bu Ambarwati dalam mengawal sekolah dan karir anaknya memang cukup ketat. Walaupun dana untuk biaya kuliah anaknya belum tersedia tetapi dia yakin pasti bisa. Tak heran Dwi yang kekeh ingin jadi dokter berhasil meraih citanya. Pada akhirnya ketiga anak Ambarwati lulus sarjana. Seorang guru, dokter dan sarjana pertanian. 

Khusus Dwi, kuliahnya memang agak lama, bahkan saat Pratiwi sudah jadi guru PNS, adiknya baru lulus jadi dokter yang ditugaskan dengan ikatan dinas di Barabai Kalimantan Selatan. 

Dwi juga yang menyatukan dan menjalin silahturahi ibunya dengan keluarga ayahnya Pak Susilo yang sempat hijrah sesaat sebelum menikah dengan Ibu Markonah. Tersambungnya Silahturahmi yang terputus membawa kebahagiaan juga untuk Pratiwi. Saat Bu Ambarwati menengok adiknya di Barabai, Pratiwi diajak untuk menemani. Dan itu jadi kenangan Pratiwi untuk pertama kali naik pesawat Merpati Nusantara Airlines. 

Pratiwi bukan orang yang mudah melupakan jasa seseorang yang telah mempermudah ataupun yang banyak membantu dirinya. Ia ingin bisa membalas kebaikan yang ia terima dengan cara berbuat baik kepada orang lain. Jadi yang ada di hatinya hingga saat ini, kapan ia bisa berbuat baik dan memvalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih. 

Bersambung

Comments

  1. Maasya Allah betapa indah ketulusan cinta Dwi kpd kakak dan ibunya..

    ReplyDelete
  2. Subhanallah luar biasa. Bisa haji bersama keluarga . Kutunggu kelanjutanja bun🙏🙏

    ReplyDelete
  3. Cerita yang apik dengan kehidupan sehari-hari memang bisa memberikan nuansa berbeda ya bu. Itu hanya fiksi atau real bu?

    ReplyDelete
  4. Terima kasih bunda, sdh diberi contoh cerita tentang Pahlawan Hidup

    ReplyDelete
  5. Itulah disebut rezeki yg tidak disangka-sangka. Tapi setidaknya rezeki itu datang karena hal2 baik yg pernah Pratiwi lakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah disegerakan.menunaikan rukun Islam.yang ke 5

      Delete
  6. Ucapan sesorang yg baik bisa jadi dia ya.
    Membalas kebaikan tentu tidak harus kpd yg bersangkutan.
    Teladan yang baik.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah..jk Allah berkehendak.mk jln akn bgitu mudah.betkah untuk bu dwi dan jg keluarga. Aamiin

    ReplyDelete
  8. Keren Bunda, semoga bisa nulis seperti ini suatu saat nanti.

    ReplyDelete
  9. Penantian yang indah. Seindah menunggu cerita lanjutannya👍

    ReplyDelete
  10. Kisah nyata ne ya Bu!
    Alur ceritanya nyata sekali, pengen buat juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu ys lbh ke faksi fakta tspi fiksi naa tokoh diubah

      Delete
  11. Tulisan bunda ..mantab2...selalu penuh gelitik utk disimak...dan asyik dinikmat

    ReplyDelete
  12. Menabur knaikan InsyaAllah akan menuai kbaikan jugà. Aminn

    ReplyDelete
  13. Menabur knaikan InsyaAllah akan menuai kbaikan jugà. Aminn

    ReplyDelete
  14. Hasil Dwi Lestari, Salam kenal dari Indrakeren...
    Semoga ada tokoh antagonis dalam cerbung ini... Biar seru ada konfliknya... Bagaimana Ibu Kanjeng?

    Hehehehheh

    ReplyDelete
  15. Semua punya kisah perjalanan hidupnya masing masing.

    ReplyDelete
  16. Cerpennya okey.....siap menunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  17. ceritanya bagus, mengingatkan bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

CORONA MEMBAWA DUKA (24 )

CATATAN EDITOR DAN APRESIASI

JADILAH PEREMPUAN HEBAT TANPA MELUPAKAN KODRAT