SUSILO


SUSILO

Sri Sugiastuti.

Pratiwi sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 17. Ibunya mengundang kerabatnya dan teman-teman sekolah juga teman main di sekitar rumahnya. Acara yang digelar sederhana dengan memotong tumpeng dan  membaca doa, jadi acara inti siang itu. 

Tiba- tiba muncul sosok asing di acara siang itu. Pratiwi sempat kaget. Dikumpulkan ingatannya tentang sosok itu. Tetap saja blank
Ia berlari kecil mencari ibunya yang sedang ngobrol dengan kerabatnya

"Ibu, siapa bapak itu yang baru datang? Apakah Ibu mengundangnya?" Tanya Pratiwi sambil menyorongkan mulutnya ke telinga Bu Ambarwati. 

Tanpa menjawab Ambarwati bergegas menghampiri tamunya yang baru datang. Ia menyalami pria itu dan memanggil ketiga anaknya supaya menemui pria yang baru datang tadi. 

"Bapakmu sudah lama ingin menemuimu dan adik- adikmu. Maafkan Ibu ya, karena selalu menghalangi dengan berbagai alasan. Semua itu Ibu lakukan karena Ibu yakin kau belum bisa paham apa yang terjadi antara Bapakmu dan Ibu." 

Pratiwi berjalan mendekati ayahnya. Ia dengan canggung menyalami sosok asing itu yang mengaku sebagai Bapak kandungnya. 

13 tahun bukan waktu yang singkat, ketika ia dan dua adiknya harus paham ada dua sosok pria dewasa yang ada di sekitarnya. Ayah kandung yang hanya bisa didengar kabarnya lewat berita, dan ayah tiri  yang biasa dipanggil Pakde Sutrisno.

Perlahan tapi pasti Pratiwi mencoba memahami sosok ayah kandungnya yang bernasib kurang beruntung. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus berpisah dengan istri dan ketiga anaknya yang masih balita. Keadaan memaksanya harus berpisah.

Susilo anak bungsu dari 5 bersaudara termasuk remaja yang cerdas, punya jiwa sosial yang luar biasa dan sangat pemberani. Tak heran bila ia sudah menjadi tentara pelajar saat masih remaja.

Karena Susilo anak bungsu dan 4 saudaranya semua perempuan yang menikah saat belia, tak heran, setelah lulus sekolah ia tinggal bersama kakak perempuannya yang sudah menikah di Semarang.

Pertemuan Susilo dan Ambarwati di Semarang, saat Susilo menunggu keponakannya yang sakit tifus, dan Ambarwati dinas di RS Karyadi. Pertemuan singkat itu membawa mereka memasuki jenjang pernikahan yang seumur jagung.

Susilo harus rela diasingkan dan hidup jauh dari keluarganya. Masa pengasingan itu berakhir. Istrinya sudah dimiliki orang lain. Tiga anaknya tak bisa dekat lagi dengannya. Ia harus ikhlas dan siap menerima risiko atas sebuah pemikiran yang akhirnya mengorbankan anak dan istrinya.

Keadaan pasca pengasingan itu, membuat hidup Susilo semakin berat. Ia tidak sanggup hidup dekat dengan anak istri, ia merasa tidak dianggap. Tiga anaknya pun perlu adaptasi untuk dekat dan menyelami jiwa ayahnya. Sementara ketiganya beranjak dewasa menginginkan agar sang ayah menikah dan memiliki keluarga baru. 

Entah inisiatifnya dari siapa, Pratiwi akhirnya dipamiti ayahnya. 

" Nduk, Bapak pamit hijrah ke Kalimantan ya. Di Binuang ada Budemu dan anak- anaknya yang siap menerima Bapak disana," Tegasnya. 

Pratiwi tak sanggup menjawab. Saat itu ia baru saja lulus SMA. Sedang sibuk mencari tempat kuliah. Ia hanya mendoakan agar Bapaknya betah disana dan segera mendapat jodoh. 

Waktu tergulir, Pratiwi dan dua adiknya sibuk kuliah. Mereka jarang mendapat kabar tentang ayah kandungnya. Ternyata Pak Susilo hanya 2 tahun di Binuang Kalimantan Selatan. Setelah itu, ia tinggal di Depok bersama 
keponakannya yang melajang.

Sampai suatu hari Pratiwi mendengar kabar bahwa Pak Susilo sudah menikah dengan seorang janda beranak satu. 

Ada rasa bahagia yang menyusup di hati Pratiwi, saat Bapaknya memberitahu tentang pernikahannya. Walauppun perempuan yang dinikahi itu  pendidikanya hanya sampai kelas 4 SD. Artinya Pak Susilo harus membimbingnya agar bisa mendidik istri  dan menjadi ibu yang baik buat anak - anaknya. 

Pak Susilo menemukan jodohnya lagi, membina keluarga baru dan dikaruniai dua orang anak lengkap laki-laki dan perempuan. Farino dan Faryanti dua saudara tiri Pratiwi satu bapak lain ibu

Pak Susilo menghidupi keluarganya dengan bekerja mengandalkan otot  bukan otak. Ia bekerja sebagai tukang membuat rumah dengan gaji harian. Untungnya Pak Susilo senang bersilahturami, sehingga rezekinya mengalir. Kadang ia mendatangi rumah sahabatnya saat sama-sama menjadi Tentara Pelajar, para sahabatnya karirnya moncer, sementara nasib Susilo terpuruk. 

Tanpa disadari oleh Pratiwi dan adik-adiknya mereka punya 3 ibu dan 2 ayah. Suasana Idul Fitri jadi momen istimewa buat mereka. Tiga keluarga itu usai salat Ied saling berkunjung.  Rumah Bude Maria yang paling dulu dikunjungi. Di sana ada Pakde Sutrisno dan anak- anaknya. 

Begitulah kehidupan mereka yang sibuk membesarkan anak-anaknya hingga mereka tumbuh dewasa dan akhirnya menikah satu persatu. 

Susilo di mata Pratiwi seorang Bapak yang sangat perhatian semenjak Ia pulang dari pengasingan. Ada saja cara yang dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak - anaknya. Sementara anak- anaknya sudah terlalu canggung saat berjumpa Bapak  kandungnya. 

Setiap ada kesempatan Pak Susilo menemui Pratiwi. Pak Susilo tidak ada beban ketika datang ke rumah Ambarwati untuk menemui anaknya. Malah terkadang ia, minta obat kalau kesehatannya kurang fit. Dengan ikhlas Bu Ambarwati memeriksa dan memberinya obat tanpa canggung kalau Pak Susilo mantan suaminya. Bu Ambarwati biasa memanggilnya Pak'e Tiwi. 

Pratiwi masih ingat, saat ia kuliah, Pak Susilo pernah mengunjungi rumah kos Pratiwi. Rupanya Pak Susilo memberi hadiah mesin ketik merk Brother kepada anaknya. Dana yang digunakan Pak Susilo dari hasil penjualan tanah warisan orang tuanya. 

Banyak hal yang membuat Pratiwi terharu setelah ia dewasa dan menghimpun kisah tentang sosok ayah kandungnya yang didapat dari orang - orang terdekat yang ada di sekitar bapaknya. 

Andai waktu bisa diputar kembali ingin rasanya ia berada dalam pelukan kasih sayang bapaknya dan mendengar kisahnya sebagai tentara pelajar di tahun 1945. Sebagai kurir pengantar surat dari markas yang satu ke markas yang lain tempat para pejuang mengatur strategi agar bisa merebut ibu pertiwi dan kemerdekaan yang abadi. 

Bersambung

Comments

  1. Keren bgt
    Saya tunggu lanjutannya bunda ...

    ReplyDelete
  2. Bagus banget bu Kanjeng, motivasi buat saya ibu.

    ReplyDelete
  3. Cerita yg seringkali ada di sekitar kita 👋 hidup ceritanya 🙏👍

    ReplyDelete
  4. sukses buat Bu Kanjeng....inspiratif sekali ....

    http://yumeinaryuri.blogspot.com/

    ReplyDelete
  5. Ceritanya masa lalu di zaman pergerakan,,,,,,tp relevan dengan keadaan masy belakangan ini marak keretakan rumah tangga ,,,,serasa ikut menyaksikan dari jauh keluarga ibu Ambarwati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya pesan penulis sampai bahwa kita hidup dengan lskon yang berbeda

      Delete
  6. Hingar bingar dunia..lakon kehidupan

    ReplyDelete
  7. keren sekali ibu bisa membuat cerita yg bersambung sprti ini,💪

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajat dari membaca sekitat. Mendengar crrita dan mengsmbil manfaat dan hikmah dari satu peristiwa

      Delete
  8. Waduh bude Kanjeng ini inspiratif senggol senggol aku bikin baper...matur suwun bude suport dan inspiratifnya buat nulis lagi tentang 3 dara.3 generasi

    ReplyDelete
  9. Hidup terkadang di luar prediksi kita, berada di pengasingan yg tdk ada kabar berita, membuat kisah hidup semaki .Berkelok. Lanjut bun

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

CORONA MEMBAWA DUKA (24 )

CATATAN EDITOR DAN APRESIASI

JADILAH PEREMPUAN HEBAT TANPA MELUPAKAN KODRAT