Bu Nia dan Bintang

Kopdar terbaru Syawal 1442 H

Bu Nia dan Bintang 

Oleh: Sri Sugiastuti 

" Sahabat adalah saudara kandung yang tidak pernah  Tuhan berikan kepada kita" 
Mencius

Tokoh yang ada di judul tulisan ini adalah sosok seorang ibu dan anak. Seorang ibu yang berusia jelang 50 tahun. Ia berprofesi sebagai guru SD dan seorang anak SD yang berusia 9 tahun. Mereka sahabat Bu Kanjeng yang awal bertemu  di dunia maya. Tepatnya  di web Gurusiana. Passion yang sama dalam Literasi membuat  banyak interaksi positif antara keluarga di Solo dan Tangerang.  Memang semua bukan kebetulan. Diyakini Bu Kanjeng ini semua atas izin Allah.

Berawal di tahun 2018, saat Bu Kanjeng bermigrasi dari Web Guraru ke web Gurusiana. Rupanya Bu Nia penggemar tulisan Bu Kanjeng. Komunikasi semakin inten. Bu Nia punya obsesi ingin membuat komunitas guru menulis di luar Gurusiana. Muncullah grup WAG dengan nama AGM. Asosiasi Guru Menulis. Beranggotakan hampir 60 an. Kami sempat membuat  buku Antologi dengan tema Praktik Literasi adanya GLI.


Doc pribadi.Saat di Perpusnas  

Namun grup tidak dikola dengan  baik akhirnya group sepi. Padahal ada Pak Much Khoiri suhunya dan tokoh pegiat literasi lainnya. Bu Kanjeng pun keluar dari group itu. Bu Kanjeng lebih fokus di group yang lebih banyak azas manfaatnya. Walaupun demikian Pertemanan Bu Kanjeng dan dua sosok itu tidak luntur malah semakin akrab. Banyak kegiatan yang membuat hubungan mereka semakin akrab layaknya kakak beradik yang saling menguatkan.

Bu Nia menganggap Bu Kanjeng orang yang pas untuk membantu sahabatnya dari berbagai kalangan yang ingin membuat buku. Tak heran  bila ada seorang juru kunci Bendung Katulampa Bogor  ingin membuat buku memoar perjalanan dan pengabdiannya sebagai seorang ASN sekaligus pencinta lingkungan dengan penuh suka duka menjalani tugas-tugasnya. Bu Kanjeng siap mengawal. Alhamdulillah buku terbit bisa menghiasi perpustakaan Bogor dan sampai takdir bukunya ke para penanggung jawab keberadaan Bendung Katulampa dan sistematikanya. Yang membuat Bu Kanjeng bersyukur  dengan hadirnya buku itu persaudaraan semakin erat.  Bu Kanjeng dan Pak Kanjeng pun saat liburan  ke Cisarua Jawa  Barat sempat  mampir ke Bandung Katulampa.  Berkunjung saat Covid-19 belum datang.
Doc pribadi  di ruang depan Perpusnas

Di mata Bu Kanjeng, Bu Nia itu orang yang ditunjuk  Allah menjembatani  antara Bu Kanjeng  dan penulis pemula  yang punya potensi diri menulis buku tetapi belum punya wadah. Dengan kekuatan  silaturahmi dan suntikan motivasi yang kuat, penulis pemula itu bangkit dan bermunculan karyanya. Namun semua itu butuh perjuangan. Karena untuk memulai sesuatu bila tidak  diniatkan dengan sungguh-sungguh pasti banyak kendala kendalanya.

Jejak kebersamaan Bu Nia dan Bu Kanjeng tidak berhenti disitu saja. Bila Bu Kanjeng ke Jakarta dan berbarengan dengan kegiatan PGRI kami pun hadir. Bertemulah dengan sosok pengurus PGRI pusat. Ada  omjay, guru Blogger. Pak Dedi, Pak Namin dkk Yang sudah memiliki personal banding sangat keren. Berada di komunitas Blogger dan Literasi tentu saja semakin menumbuhkan semangat menulis dan berbagi.
Doc Pribadi di  halaman  Museum  Gajah

Saat Bu Nia ke Semarang pun ada  waktu untuk bersilahturahmi. November 2020 saat  Pandemi Allah juga mudahkan pertemuan di Bekasi. Seperti  Bu Nia sudah menganggap Bu Kanjeng  bagian dari keluarga.  Kapan ada kesempatan bisa silaturahmi pasti dijalani. 

Sekelumit kisah kopdar terbaru seri idul fitri pun terukir indah. Sesuai rencana dan jadwal, saat Bu Kanjeng di Jakarta mau memasukkan agenda refresing ke Bogor dan curug. Jadwalnya dibuat menikmati kuliner malam di Bogor dan pagi bisa menikmati  obyek wisata baru di Ciawi atau ke curug. Rencana boleh matang tetapi kenyataannya berbeda. Rupanya Bu Kanjeng berpikir ulang untuk ke Bogor melaksanakan rencana itu. Banyak alasan dan pertimbangan yang menggugurkan rencananya. 
Doc Pribadi di depan museum Gajah

Kaki Bu Kanjeng sudah tidak selincah dahulu. Jalan berputar  ketika keluar dari stasiun Bogor juga jadi pertimbangan. Info  Bogor zona hitam pun menghantui. Maka direncanakan ulang. Bu Nia dan Bintang saja yang berkunjung ke rumah adik Bu Kanjeng tempat Bu Kanjeng  ngepos kalau di Jakarta. Karena Bu Nia menawarkan minta dibawakan apa dari Bogor, tentu saja Bu Kanjeng langsung request Asinan Bogor  dan toge goreng. Ternyata yang dibawa malah lebih lengkap. Ada cake talas, manisan buah pala dan dodol Bogor. Nikmat Allah manakah yang kau dustakan.

Sebelumnya di rumah  adiknya Bu Kanjeng sudah datang lebih awal Bunda Rince dari Bekasi. Beliau yang super sibuk menyempatkan diri bersilahturahmi. Ada kebahagiaan yang menyusup di hati Bu Kanjeng saat bisa salat dzuhur berjamaah dengannya. Kesempatan itu sangat langka. Tetapi atas izin-Nya alhamdulillah bisa dilakukan. Dan ini juga rezeki dalam bentuk indah. Bunda Rince juga ada  membawa kembang goyang, kacang Thailand dan khategel khas kue lebaran. Pertemanan Bu Kanjeng dan Bunda Rince akan dilanjutkan dalam tulisan berikut.
Doc Pribadi  di lobi Gedungn PGRI Jakarta 

Kembali ke Bu Nia dan Bintang  yang sedang merintis jadi youtuber dengan spesifikasi media pembelajaran online membuat Bu Kanjeng kagum dan bangga dengan kiprahnya. Bu Nia yang masuk dalam Komunitas Guru Penggerak  kemendikbud memang punya tanggung jawab moral mengabadikan ilmunya untuk guru-guru yang ada  di seluruh  Indonesia. 

Dengan silaturahmi dan berbagi Bu Kanjeng dan Bu Nia bisa melepas rindu  dan masing-masing berkisah tentang progresnya. Terpenting mereka saling menyemangati dan melengkapi. Komunitas Bu Kanjeng dan Bu Nia pun bertambah sesuai dengan kapasitas masing-masing.  Bu Nia ingin mengajak sahabatnya yang sudah sukses dengan pembelajaran online bisa membuat buku panduan yang ber-ISBN dan dikawal Bu Kanjeng. 

Bu Nia selalu menyediakan waktunya saat Bu Kanjeng ada kegiatan di Jakarta atau di Jawa Barat. Bagaimana caranya keberadaan Bu Kanjeng saat di Jakarta agar bisa berjumpa. Tanpa menggugurkan kewajibannya yang utama, dengan kata lain, antara Bu Kanjeng dan Bu Nia harus pandai mengatur waktu yang ada.

Banyak sekali tempat atau lokasi yang jadi saksi kebersamaan mereka. Ada museum Gajah. Perpustakaan Nasional, stasiun Bogor, Gedung PGRI pusat, Village di Cisarua, Hotel bintang 5 di daerah Slipi, gedung JCC saat ada pameran buku Internasional. Ada villa ngumpet milik penulis legendaris yang sudah sepuh, Ibu Lies namanya. Penulis yang tinggal  di pelosok Bogor ini pernah menjadi kenangan tersendiri.  Bahkan lokasi pinggir jalan di mulut gang menuju rumah Bu Kanjeng pun pernah jadi saksi. Minimnya waktu karena ada banyak hal yang tidak bisa dikorbankan. Semua indah karena ada keikhlasan masing-masing. Ya begitulah mereka menyatu dengan ikatan ukhwah indahnya persahabatan. Bu Kanjeng mengingat semua yang pernah mereka renda bersama.


Taaaraaaa,...Waktu menikmati oleh-oleh pesanan Bu Kanjeng yang request makanan khas Bogor pun dimulai. Lengkap lah tersaji di meja makan. Ada pecel, cah sayuran, toge goreng, ayam goreng, balado ikan kakap,  asinan buah dan sayur. Masih ada kriuknya peyek kacang dan teri. Semua menyelera. Alhamdulillah. 

Usai menikmati rezeki yang tersaji, mereka tetap asyik mengobrol, kecuali Bunda Rince yang harus segera pulang karena masih ada acara lain. Niatan untuk vicall dengan Omjay pun batal karena omjay sedang sakit radang tenggorokan. Selain itu ternyata Bu Nia pun sedang mengikuti zoom Guru Penggerak.

Obrolan santai masih dilanjutkan saat hujan lebat turun dan lumayan agak lama. Padahal Bu Nia harus kembali ke Bogor. Hujan tak kunjung reda. Khawatir kemalaman. Adik ipar Bu Kanjeng siap mengantar sampai ke stasiun. Belum juga mobil masuk garasi, Bu Nia telpon bahwa tas kosmetik dan isinya plus kartu-kartu tertinggal. Untung ada si Ganteng yang siap antar tas yang tertinggal itu ke  stasiun. Untung jarak rumah ke stasiun Pasar Minggu Baru tidak jauh.

Bu Nia dan Bintang pun melaju menuju Kereta api atau comuterline jurusan Bogor yang dari arah utara. Terima kasih Bu Nia, terima kasih Bintang. Ibu dan anak yang rajin silaturahmi, ramah dan punya banyak sahabat. Semoga selalu diberi kesehatan, kelapangan dada dan pandai bersyukur.  Jiwa guru dan persaudaraannya sangat luar biasa. Bu Kanjeng sangat bersyukur bisa mengenalnya.

Benar seperti yang diungkapkan Khalil Gibran, " Persahabatan bukanlah  sebuah kesempatan, tetapi merupakan  tanggungjawab yang manis" 

Catatan 10 Syawal 1442.



Post a Comment

10 Comments

  1. Indahnya persahabatan, semoga kita bisa bertemu Bunda

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah... Terima kasih Bunda. Semoga dapat berjumpa kembali

    ReplyDelete
  3. Subhanallah indahnya silaturahmi. Banyak kebahagiaan banyak rezki dan banyak kesempatan bertemu banyak saudara. Salam literasi Bun

    ReplyDelete
  4. Traveling and writing bunda, cool!

    ReplyDelete
  5. Tulisan yang manis untuk dipelajari kisahnya antara persahabatan dua sosok literasi
    Sehat terus Bu Kanjeng

    ReplyDelete
  6. Persahabatan yang luar biasa. Berawal dari sebuah kesamaan. Tulisan yang memberikan pelajaran kuatnya silaturahmi. Terima kasih Bu Kanjeng.

    ReplyDelete
  7. Kompak sekali dua ibu muda ini, hehe.. Maksudnya semangatnya yang muda dan masih meledak-ledak, apalagi semangat untuk berbagi cerita dan ceria.

    ReplyDelete