AKU, LITERASI DAN PANDEMI


Aku, Literasi dan Pandemi

Oleh: Sri Sugiastuti



Menjadi Penulis di Usia Senja

Better late than never menjadi mantra sakti yang mengantarkan saya sebagai seorang penulis. Berguru ilmu di segala penjuru saya lakukan baik luring maupun daring. Jelang usia 50 tahun 2 buku diluncurkan 1 buku diterbitkan indie dengan judul Kugelar Sajadah Cinta dan diterbitkan  mayor penerbit Erlangga Seri Pendalaman Materi Bahasa  Inggris untuk SMK kelas 12. Sejak itu semakin giat menguprade diri sehingga naik kelas.

Tanpa disadari perlahan tapi pasti saya melebelkan diri sebagai Pegiat Literasi Nusantara.
Kecintaan saya terhadap  dunia literasi diwujudkan dengan mengikuti banyak komunitas menulis. Dimana saya bisa mengajak Bapak Ibu guru praktik langsung mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis. Saya bersama PGRI  kerap mengadakan diklat menulis. Sementara saya pun naik kelas dari penulis menjadi editor sekaligus sebagai Penanggung jawab dari terbitnya buku Antologi karya penulis di nusantara.

Saya pun sempat terbang ke Kupang dan Padang sebagai narasumber yang diselenggarakan oleh komunitas menulis di Dharmasraya Sumatera Barat. Sampai akhirnya pandemi datang. Menurut saya Pandemi membuat orang lebih kreatif dan selalu bersyukur. Berada di rumah menjalani WFH, membatasi kegiatan di luar rumah tidak menjemukan bagi saya. Karena banyak yang bisa dilakukan ketika saya aktif di dunia maya untuk  berbagi ilmu yang saya miliki. Hampir setiap saat saya akrab dengan wifi  Internet dan Literasi secara  daring. Bersama PGRI dan Omjay tiada hari tanpa Literasi dan memberi motivasi.

Ratu Antologi

Sebutan Ratu Antologi yang saya sandang bukan tanpa sebab. Keberhasilan saya mengajak Bapak Ibu di Nusantara  untuk membuat buku. Saya juga memberi tantangan sebagai kurator atau pengepul naskah yang akan dibukukan hingga  berbuah manis. Puluhan judul buku lahir dan beranak pinak. Saya berhasil menggali potensi penulis pemula menjadi penulis sejati. Ada kepuasan tersendiri saat peserta di komunitas bisa melejit dan menularkan ilmu Literasinya di daerah.

Narasumber di kelas Belajar Menulis PGRI dan Wijaya Kusumah secara daring.

Pandemi telah membawa banyak perubahan. Ia salah satu kepala sekolah yang punya keinginan agar semua gurunya berproses menjadi guru yang kreatif dan produktif sekaligus sadar sukses.  Guru yang mau dan mampu berproses dengan jati dirinya sebagai seorang guru. Sebelum Pandemi pun sekolahnya pernah menjadi tuan rumah diselenggarakannya Seminar nasional  yang menggapai menulis buku ajar yang bekerjasama dengan penerbit Andi dan Epson. Ini salah satu upaya menggerakkan Literasi dan membranding nama sekolah. Semua saya lakukan sebagai bentuk atau bukti kecintaan saya terhadap dunia literasi. 

Saya aktif mengisi sebagai Narsum sejak dibuka kelas menulis via daring oleh PGRI dan Blogger terkenal Pak Wijaya Kusumah yang sudah sampai di gelombang 22 dan rata-rata tiap gelombang peserta 250 orang Belajar via WAG. Tema yang disampaikan berkisar Writing is My passion, mengubah mindset peserta bahwa menulis itu suatu gairah layaknya makan dan minum. Suatu hasrat yang harus disalurkan. Semakin banyak jam terbang semakin memperkuat kemampuannya untuk berbagi. Bermunculan banyak buku produk dari kegiatan yang dilaksanakan selama Pandemi. Alhamdulillah itu satu hal yang sangat dengan saya syukuri.

Pendiri PMA Literasi Istikamah.

Jelang purna dari ASN, saya mendapat gelar Ulama. Usia lanjut masih aktif. Saya pun sering berbagi pengalaman mengisi acara di beberapa stasiun radio. Tema yang diusung adalah bagaimana produktif di usia senja. Saya juga memiliki komunitas Kelas Menulis Gratis sebagai wadah para penulis pemula yang ingin menjadi penulis andal. Berharap Bapak Ibu guru di Indonesia bisa menjadi garda terdepan di bidang Literasi.  Karena tuntutan zaman menjadi guru milenial membutuhkan guru yang terus bergerak menebar kebaikan dengan potensi yang dimiliki.

Tebarkanlah virus cinta literasi hingga pelosok negeri.

Post a Comment

11 Comments

  1. Bu Kanjeng memang luar biasa 👍

    ReplyDelete
  2. Hebat bunda layak dpt gelar ratu antologi 👍👍

    ReplyDelete
  3. Luar biasa bunda.... Harus di ikuti jejaknya nih

    ReplyDelete
  4. Usia yang sama ketika memulai berliterasi. Semoga jejak langkah dapat saya duplikasi utk memperkaya sejarah hidup.

    ReplyDelete
  5. Masyaallah kereen bunda, smg menulari saya

    ReplyDelete
  6. Bundaku yang keren.. Bukan hanya pegiat literasi tapi juga pembentuk pegiat literasi nusantara

    ReplyDelete
  7. Saya suka dg akronim ULAMA-nya.
    Mantap Bunda....

    ReplyDelete
  8. Masyaallah...Bunda my Inspiration🥰🥰🥰Sehat selalu & semoga membawa keberkahan..

    ReplyDelete