RUWET


RUWET

Oleh: Sri Sugiastuti

"Allah memerintahkan manusia untuk beriman karena iman adalah sebab turunnya hidayah dan jalan kebahagiaan dunia akhirat. Orang mu'min akan dilapangkan hatinya oleh Allah untuk mendapat petunjuk menuju kebaikan-kebaikan lainnya."

Sengaja Bu Kanjeng mengawali tulisannya dengan untaian kalimat motivasi untuk mengingatkan dirinya sendiri dan pembaca tulisan ini. Kebiasaan Bu Kanjeng menjadi pendengar yang baik berbuah rasa syukur dan syukur  di hatinya.

Lingkungan di sekitar rumah Bu Kanjeng terbagi dua. Yang sebelah selatan  lingkungan yang kumuh dan masyarakatnya punya banyak masalah. Sedangkan yang sebelah selatan  lingkungan mewah dengan rumah cluster yang tidak bisa dijamah.

Bu Kanjeng ingin berbagi kisah dari  seorang ibu yang tinggal lingkungan kumuh. Bu Lasmi dengan anaknya yang bernama Bayu. Ia seorang ibu yang kurang beruntung hidupnya dan ujiannya pun berat. Memang Bu Lasmi berangkat  dari orang yang tidak mampu dan tidak berpendidikan.

Bu Kanjeng rasanya prihatin dan miris dengan nasib Bu Lasmi dan anak-anaknya. Namun mereka yang menjalani tenang saja dan hepi. Tidak ada  rasa sedih yang berkelindan di pikirannya. Itu pengamatan Bu Kanjeng dari luar. Sedangkan yang sesungguhnya seperti apa perasaan mereka. Hanya Allah yang maha mengetahui.

Bu Lasmi seorang janda dengan  5 anak yang tiga sudah berumah tangga dan yang dua Septi dan Bayu masih hidup satu rumah dengan  Bu Lasmi. Bu Lasmi saat ini kerjanya sebagai pemulung srabutan. Kadang juga dimintai tolong oleh tetangga kanan kiri. Termasuk Bu Kanjeng kerap minta kepada Bu Lasmi. Bu Lasmi hidup dalam kekurangan dan miskin iman.

Rumahnya tidak jauh dari masjid. Tetapi salat 5 waktu tidak dijalankan. Kurang pandai mengurus anak. Itu sebabnya si Septi hanya lulus SD. Dan Bayu hanya sampai kelas 3 SD. Sebagai tetangga Bu Kanjeng ikut memikirkan nasibnya. Mengajarkan Bu Lasmi bagaimana mengurus anak dengan baik. Ternyata Bu Lasmi kurang usaha dan kurang telaten. Si Septi kerja di warung makan dengan pakaian yang seronok tidak ditegur. Mengelola uang hasil bekerja di warung makan pun tidak pandai. Apa lagi membantu ibunya.

Bu Kanjeng semakin prihatin saat si Bayu sakit dan harus opname di Rumah Sakit. Anak usia 15 tahun itu ginjalnya rusak juga levernya. Bayu menderita penyakit tersebut karena tidak pernah minum air putih. Makanan yang dikonsumsi  semua makanan yang mengandung bahan pengawet pewarna dan penambah rasa. Wajar bila ginjalnya rusak.

Hidup dan asupan gizinya memang tidak teratur. Sifatnya kepada ibunya juga kasar. Terutama bila minta uang.  Ibunya sangat lemah dan tidak tegas. Apa yang jadi keinginan Bayu pasti dipenuhi. Bila tidak dituruti Bayu akan ngamuk dan berbuat kasar kepada ibunya.

Keseharian Bayu hidup tanpa arah. Kadang dia ke sawah atau mencari burung. Suatu hari ia mendapat burung dan dijual seharga 125 ribu. Sang ibu mengetahui anaknya punya uang. Tanpa izin Bayu, uang itu diambil 100 ribu. Tentu saja Bayu ngamuk. Baju ibunya yg layak untuk  pergi habis dibakar oleh Bayu. Bu Kanjeng kaget mendengar kejadian itu. Sungguh keterlaluan sifat si Bayu.

Bayu membutuhkan sosok Ayah atau setidaknya ada orang yang mau peduli dengan nasibnya. Ia butuh bimbingan agar bisa tumbuh dewasa mandiri dan bisa membantu Bu Lasmi yang suatu saat pasti menua.

Saat ini Bu Kanjeng perlahan tapi pasti ingin mengajak Bu Lasmi agar kuat iman dan mau belajar salat dan berikhtiar  agar anak-anaknya punya masa depan yang gemilang. Bayu dan ibunya perlu uluran tangan dari takmir masjid atau dari lingkungan yang mampu dan mau berbagi. Bagaimana agar kehidupan keluarga yang kurang beruntung ini tidak terlalu ruwet.

Bu Kanjeng  sudah pernah berkunjung ke rumah Bu Lasmi. Rumah petak 3 kali 4 itu merupakan rumah magersari sewa tanah. Yang mendapat bantuan pemerintah  17 juta  dan dibangun secukupnya dana tersebut yang penting tidak bocor,  berdinding dan berlantai semen.

Bagaimana keadaan rumah itu? Tentu saja jauh dari layak. Karena dihuni 6 orang..Ada Bu Lasmi, Septi, Bayu dan 3 orang lagi anaknya yang sudah berkeluarga dengan 1 anak. Terbayang ya sempit. Ditambah  sarana untuk MCK juga belum.ada. Jadi  mereka melakukan kegiatan itu di Kamar mandi umum.

Semoga tulisan kali ini dapat menambah rasa syukur Bu Kanjeng dan pembaca, agar lebih bersyukur dan jangan pelit untuk berbagi. Bila kita memudahkan urusan hamba Allah yang kurang  beruntung insyaallah akan dibukukan pintu rezeki lain oleh Allah.

Solo, 18 04 2022

Post a Comment

12 Comments

  1. ya allah alangkah kurang bersyukurnya hambamu ini. Moga Bu Lasmi dan anaknya segera bisa menata diri dan dekat dengan Allah sehingga datang ertolonganNya. Mksh bu Kanjeng yangpeduli dengan orang miskin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah cara Allah mengajarkan saya agar selalu bersyukur

      Delete
  2. Kisah singkat Bunda Kanjeng mengandung pembelajaran yang luar biasa.

    Pertama, dari lokasi tempat tinggal. Terdapat kontradiksi kehidupan ekonomi. Yang satu, kumuh yang melambangkan situasi kemiskinan. Dan tempat lainnya sungguh berbeda hampir 180°.

    Kedua, kehidupan tokoh nyatanya juga sungguh 'menyakitkan'. Selain secara ekonomi, kehidupan sosial, termasuk karakter mereka. Miris. Jujur saya sangat bersyukur masih diberikan kehidupan cukup layak walaupun masih jauh dari kata kaya. Namun lebih dari itu kita juga sungguh bersyukur bahwa diberikan anak-anak yang berbakti kepada orang tua.

    Mungkin kita pasti memiliki keprihatinan terhadap kepribadian dari Bayu. Bisa jadi itu salah satu bentuk protesnya terhadap kehidupan yang mereka alami dan tidak tahu bagaimana jalan keluarnya.

    Di sini kita tahu bahwa : "Kemiskinan tidak terjadi karena malas, namun karena kesempatan yang belum terjadi.'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu sejatinya bila kita mau membaca alam dan kehidupan di luar pasti banysk kita ketahui betapa bersyukurnya kita.

      Delete
  3. Alhamdulillah Bunda diberikan jalan, semoga dimudahkan dlm berbagi dan memberikan solusi. Amin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah cara Allah mengajarkan saya lewat perantara orang orang yang kurang beruntung

      Delete
  4. Ya ,Allah...kasihan sekali,nasib Keluarga Bu Lasmi.Begitulah sudah miskin ,lupa ibadah ,tambah parah . Semoga ada jalan keluarnya,Aamiin Ya Robalalamin ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

    Tulisannya .... Keren,sangat menginspirasi,ikut sedih๐Ÿ˜ญ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak potret kehidupan orang lain yg membuat kita semakin bersyukur

      Delete
  5. Semoga senantiasa bersyukur dengan keadaan kita.

    ReplyDelete
  6. Ya Allah kasihan keluarga tersebut

    ReplyDelete