HEALING LAHIR BATIN

HEALING LAHIR BATIN

Oleh: Sri Sugiastuti 

Healing menjadi istilah baru yang mirip  me time atau sejenisnya yang bisa berupa refreshing, kunjungan ke suatu tempat untuk tadabur alam atau sekadar menikmati ke indahan alam yang ada di sekitar. Setiap orang pasti ingin menikmati healing yang berkualitas dan berdampak positif untuk dirinya dan keluarga. 

Kali ini Bu Kanjeng punya kisah khusus yang bisa dipetik hikmahnya. Saat ia berada di Labuan Bajo dan hatinya galau untuk memutuskan kembali ke Solo mau via udara atau laut. Rencana awal pulang  via laut terganjal beberapa hal. Salah satunya kurang pede dan menghitung waktu  48 jam di atas kapal Roro belum terbayangkan.

Akhirnya di senja merona Bu Kanjeng berhasil hunting tiket pesawat untuk pulang ke Solo via Surabaya.  Pesawat Air asia akan membawa ia menuju Surabaya dengan transit 3 jam di bandara  Ngurah Rai Denpasar Bali. Artinya ia harus menambah bermalam di Labuan Bajo
 Pilihan jatuh di rumah Bu Tatik seorang guru SMP Katolik St. Ignatius Loyola.

Jelang senja Bu Kanjeng tiba di rumah Bu Tatik. Sebuah rumah sederhana, bersih dan rapi. Bu Kanjeng yakin bisa istirahat dan mengumpulkan stamina untuk mengadakan perjanjian pulang besok siang. Tak dinyana Bu Kanjeng bisa berkenalan dengan seorang ibu atau tepat dengan seorang nenek yang usianya 66 tahun. Walaupun sudah  berusia 66 tahun Bu Linda  masih terlihat bugar dan lincah.

Tentu saja hal ini mengundang banyak tanya di hati Bu Kanjeng. Setelah berkenalan dan basa-basi, banyak hal menarik yang didapat Bu Kanjeng. Karena nanti malam Bu Kanjeng harus berbagi kamar  dengan Bu Linda giat ngobrol pun semakin asyik. 

Bu Linda keturunan Cina yang bermukim di Parung Bogor Jawa Barat. Tentu saja membuat Bu Kanjeng kepo, pasalnya dia tidak ada hubungan dengan keluarga Bu Tatik. Ia berada di rumah Bu Tatik atas izin Allah. Awalnya ia berangkat ke Labuan Bajo bersama temannya  bernama Bu Silvia yang usianya 68 tahun. Rencana mereka liburan di Labuan Bajo dan ikut bergabung dengan rombongan gereja mengikuti tour ke pulau Komodo.

Hubungan mereka aman- aman saja. Mereka sudah lansia  bisa traveling bareng itu sangat istimewa. Sayangnya giat traveling itu tidak berjalan mulus. Terjadi keributan kecil dan akhirnya pecah perang adu mulut bahkan hampir terjadi baku hantam. Tentu saja hal ini membuat keluarga Bu Tatik kecewa.  Mereka berusaha melerai bahkan agar sementara pisah kamar. Diingatkan bahwa tujuan awal mereka traveling untuk apa? Mengapa jadi ribut di rumah orang. Tetap  susah diberi pengertian dan pada akhirnya Bu Silvia yang lebih tua berusia 68 keluar dari rumah Bu Tatik dengan membawa kemarahan.  Padahal harusnya masih ada  3 hari kebersamaan mereka.

Bu Kanjeng mengikuti semua cerita itu dan berusaha mengambil hikmahnya. Mempelajari latar belakang mereka berdua. Bu Linda yang berusia  66 tahun seorang single parent  yang membesarkan anaknya seorang diri karena bercerai dengan suaminya.  Ia berjuang menghidupi  anaknya dengan bekerja di sebuah bar. Sampai kedua anaknya sukses. Di masa tuanya dinikmati traveling ke luar negeri pun dijelajahi. Semboyannya selama masih bisa traveling jalani saja. Agar tidak menyesal bila sudah tidak mampu berjalan. 

Bu Silvia teman Bu Linda, walaupun Bu Kanjeng tidak berjumpa dengan  sosok  tersebut, ia bisa membayangkan. Bu Silvia yang berstatus tidak menikah hingga usia 68 tahun tentunya seorang wanita yang super mandiri  dan harusnya bijaksana. Nyatanya dua nenek ini mengalami kekecewaan yang fatal. Ini versi Bu Kanjeng loh. Healing yang mereka harapkan menjadi sesuatu yang menyakitkan. Ternyata memupuk suatu pertemanan tidak mudah.

Di sepenggal hari  sebelum meninggalkan Labuan Bajo ada satu kisah yang penting dan jadi pembelajaran Bu Kanjeng. Pertama tentang sewa mobil yang kedua tentang kebersamaan.  Hal ini  terjadi saat pembicaraan sewa mobil dan tujuan tidak jelas. Yang kedua tentang makan siang dan kebersamaan.  Sebenarnya hal ini kurang pantas untuk dibahas, tetapi  perlu untuk pembelajaran orang lain. Karena tidak dibicarakan dari awal Bu Kanjeng merasa digetok atau ditodong.  Biaya sewa mobil plus driver yang 3,5 jam dihitung 600 ribu. Rute dari rumah Bu Tatik, ke rumah adat, ke galery tenun, makan siang di resto La cecile, dan drop di Bandara. Sedangkan untuk makan siang 4 orang  Ki saran 550 ribu. Bu Kanjeng yang naif menghitungnya semua biaya  dibagi dua dengan  Bu Linda karena sebagai tamu yang dilayani. Ternyata persepsi Bu Kanjeng  salah.

Sambil menunggu pesawat tiba Bu Kanjeng menerima pesan yang intinya harus transfer lagi untuk kekurangan sewa mobil. Intinya pembagian biaya Bu Linda hanya membayar apa yang dia makan. Biaya 1,2 juta. Bu Linda 400 ribu.bSisanya Bu Kanjeng dengan alasan bahwa acara makan siang di luar pembicaraan awal. Bu Kanjeng bisa saja lupakan itu dan tidak transfer uangnya lalu  dianggap selesai.

Namun, apa artinya uang dibandingkan dengan harga diri. Bu Kanjeng sudah merasa bersyukur  bisa takabur alam, menikmati menu restro yang menyelera, walaupun mahal. Karena restro itu  tidak hanya menjual menu yang terhidang, tetapi juga menjual konsep resto dengan views  yang indah memukau.

Healing lahir batin Bu Kanjeng terpenuhi. Urusan uang nomor sekian. Ia banyak belajar dari apa yang dialami selama 24 jam di hari terakhir kunjungannya di Labuan Bajo. Walaupun belum semua tempat wisata yang mendunia bisa dikunjungi. Ia cukup puas dengan takdir travelingnya.

Pada akhirnya Bu Kanjeng menyadari bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Satu pelajaran berharga ketika berjumpa dengan orang yang perhitungannya sangat rumit. Semoga Allah lebihkan rezeki untuk Bu Kanjeng agar ia tetap semangat berbagi dan traveling.

Post a Comment

46 Comments

  1. Pembelajaran hidup yang luar biasa. Terima kasih Bu Kanjeng atas ilmunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leres Prof. Sungguh tipe manusia itu aneka rupa dan sifatnya. Terima kasih sdh singgah.

      Delete
  2. Sungguh legowo Bu kanjeng, sellau dapat diambil ibroh
    Inilah yang di namakan orang sellau sukur nikmat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Awalnya gemes tetapi sanubari berkata lain.

      Delete
  3. Semoga Bu kanjeng dapat ganti rezekinya yg lebih banyak. Ngomong2, ke labuan bajo solo traveling ya Bu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin YRA. Ada giat sebagai peninjau di JAMDA IX NTT 2022 LABUAN BAJO

      Delete
  4. Masya Allah beruntung bisa membaca postingan ini, saya menjadi terinspirasi untuk memulai lagi menulis. Postingan memberi inspirasi ternyata kita bisa membuat sebuah tulisan dari apapun yang telah kita lalui dalam perjalanan hidup di dunia yang fana ini.

    ReplyDelete
  5. Semoga ibu selalu sehat dan barokah dalam menjalankan kehidupan ini.Senang ya bu jalan jalan ke Labuan Bajo

    ReplyDelete
  6. Semoga terganti dengan yang lebih banyak ...pengalaman baik akan membawa kenangan ..pengalaman buruk akan memberikan pelajaran .tak ada yang sia sia .

    ReplyDelete
  7. Luar biasa perjalanan healing yang dilakukan oleh bu kanjeng...healing yang sering orang konotasikan sebagai jalan- jalan atau travelling, sebenarnya memiliki makna mengobati luka batin ,salah satu caranya yaitu dengan travelling, menikmati momen indah, disini bu kanjeng benar- benar melakukan healing yang sebenarnya, disaat mengalami hal yang kurang mengenakan ,beliau mampu merubah mindsetnya ,bahwa uang nomor sekian, yang penting hati senang karena sudah diberikan kesemoatan Travelling oleh Allah SWT, suatu pembelajaran dan pengingat bagi kita bahwa dimanapun kita berada pasti akan menemukan orang sepwrti itu, ringga bagaimana kita mampu menyikapinya

    ReplyDelete
  8. Masya Allah tulisan Bu kanjeng luar biasa menginpirasi untuk selalu berpikir positif dan berusaha lapang dada bahwa pandangan kasar manusia menurut dia baik dr performance nya belum tentu isi hatinya mulia..ibroh pembelajaran menilai karekter seseorang itu sangat penting

    ReplyDelete
  9. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa Bu Kanjeng, "apalah artinya nilai rupiah jika di banding dengan harga diri bu Kanjeng" ungkapan ini sangatlah bagus karena sejatinya kita hidup di dunia ingin kebermanfaatan kita dapat di rasakan orang lain, tapi tentunya tidam untuk di manfaatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke depan pasti akan.lebih hati hati menghadapi sikap orang yang baru kita kenal.

      Delete
  10. Perjalanan Religi yg luar biasa...ini yang namanya belajar dari alam dan pengalaman, ada pepatah mengatakan kita pengalaman itu guru yang paling berharga...btw luar biasa dalam kondisi apapun masih bisa berbagi..Ist true healing

    ReplyDelete
  11. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari perjalanan hidup kita, salah satunya hikmah saat bu Kanjeng memilih perjalanan pulang melalui udara sehingga bisa memetik hikmah dr kisah bu Linda serta kita harus pandai bersyukur dr setiap keadaan kita. Semoga Allah menggantikan dengan rezeki yang lebih baik lagi untuk bu Kanjeng dan keluarga.

    ReplyDelete
  12. Ibrah dari traveling Bu Kanjeng merupakan pengalaman yang sangat berharga. Uang bisa dicari yang terpenting sehat selalu Bu Kanjeng. InsyaAllah dapat ganti yang lebih barokah dan melimpah.

    ReplyDelete
  13. Healing memang sudah menjadi kebutuhan pokok akhir² ini, Bu. Me Time atau healing atau apapun sebutannya punya efek positif selagi kita memanfaatkannya.

    Saya juga pernah mengalami hal yang sama, berharap diperlakukan sebagai tamu ketika berkunjung ke negeri teman. 😅

    Betul kata ibu, dalam menjalin circle dan memupuk persahabatan, uang adalah urusan kesekian. Hal pertama dan paling utama adalah kebahagiaan bathin dan relasi kita.

    Saya pernah mendengar ini:
    "uang tidak akan berharga ketika kita bersama teman, kalianlah yang sangat berharga karena terus dalam kebersamaan"

    ReplyDelete
  14. Jadi pengen travelling ke Labuan Bajo juga deh Bunda

    ReplyDelete
  15. Satu sisi saya salut dengan wanita-wanita hebat yang masih travelling di usia di atas 60 an (Bu Silvia dan Bu Linda). Hanya seharusnya di usia Sematang itu, mereka sudah punya persiapan dan perencanaan yang matang sebelum bepergian. Termasuk menyusun itinerary dan menentukan budget yang diperlukan. Sehingga menghindari masalah atau kesalahpahaman yang bisa terjadi di tengah perjalanan.

    Dan untuk Ibu Kanjeng, saya salut untuk kebesaran harinya menerima perlakuan yang tidak adil terkait biaya perjalanan itu. Semoga barokah ya Bu ilmu dan pengalaman yang dibagikan melalui tulisan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah Bun, kita bisa banyak belajar dari sikap mereka.

      Delete
  16. Healing Bu Kanjeng ini sangat inspiratif!!

    ReplyDelete
  17. MasyaAllah bu Kanjeng... Saya dapat membayangkan seperti apa riwehnya menghadapi kejutan takdir bertemu dengan orang-orang yang baru. Tapi itu semua tidak terjadi tanpa ada alasan, oasti Allah kasih alasan kenapa. Mungkin salah satunya bisa jadi cerita di blog ini, sehingga kami semua dapat memetik hikmah yang bu Kanjeng dapatkan juga.

    Semoga kami bisa menyusul bu Kanjeng juga, can travel every city or even every country we'd dreamt of...


    Sukses selalu bu... We'll wait for your nee story... 😊❣️

    ReplyDelete
  18. Luar biasa perjalanan healing sampai ke Pulau Komodo Labuhan Bajo masuk Provinsi Nusa Tenggara Timur ya Bu, Sebuah nama yang sering saya dengar tapi sampai saat ini belum terpikirkan untuk pergi healing ke sana.
    Saya sangat terkesan dengan pengalaman yang diceritakan diluar kegiatan healing tersebut, berkaitan dengan merasa digetok saat menyewa angkutan dan harus mengeluarkan uang lebih untuk menikmati saat makan.
    Pada akhirnya demi harga diri dan pertemanan uang tidaklah menjadi masalah demi mendapatkan kesenangan menikmati alam yang indah ciptaan Tuhan.
    Terima kasih Bunda tulisannya dapat menjadi bahan referensi jika suatu saat saya adda rejeki dan kesempatan untuk berkunjung ke sana, semoga sehat selalu dan dapat terus menjadi inspirasi literasi bagi Indonesia

    ReplyDelete
  19. Belajar dari pengalaman bunda kanjeng sangat luar biasa menginfirasi, sejatinya memang manusia harus saling berempati sebagai bentuk mahluk sosial. Pengalaman yang ibu rasakan sayapun pernah merasakannya mungkin kebayakan orang di luar juga. Tapi tindakan yang ibu ini sangat luar biasa menurut saya karena legowo dan ikhlas dalam berbagi. Mungkin juga ibu adalah orang yg terbiasa untuk berbagi sehingga tidak berat untuk menjalani dan tidak perhitungan. Orang baik pasti dibalas kebaikan.

    ReplyDelete
  20. MasyaAllah, Bu
    Pengalaman yang sangat berharga.

    Saya sering mendengar peribahasa "Jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasai"

    Semoga sukses selalu, Bu.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Maa syaa Allah kisahnya sangat menginspiratif. Hanya membaca sepenggal kisah healing Bunda Kanjeng di Labuhan Bajo serasa ikut merasakan suasana yang dialami beliau. Semoga tetap menjadi bunda yang selalu berpikiran positif dengan berbagai pengalaman yang penuh tantangan dan menuangkan kisahnya untuk bisa diambil ibrohnya. Sehat selalu bunda. Salam dari Tito peserta BM-27.

    ReplyDelete
  23. Healing yang sangat berfaedah Bu...bertadabur dengan alam dan bersilaturahmi bisa dirasakan manfaatnya dalam jangka waktu yang panjang, tidak hanya sekedar having fun sesaat. Luar biasa Ibu...ditunggu cerita inspiratif berikutnya.

    ReplyDelete
  24. Masya Allah sungguh bijaksana sekali Bu kanjeng menyikapi hal yg membuat hati kesal dengan mengalihkan mindset yang kita dapatkan lebih menenangkan dan menyenangkan ketimbang yang kita keluarkan. Bravo manajemen qalbu Bu Kanjeng 💖💞

    ReplyDelete
  25. Menarik sekali Bu Kanjeng tulisannya. Healing yang sangat bermakna. Pembelajaran yang sangat berharga, dan bu Kanjeng bisa menyikapinya dengan sangat bijaksana. Healing yang sangat inspiring.

    ReplyDelete
  26. Masyaallah, perjalanan yang penuh pelajaran hidup. Sangat menginspirasi, Bu Kanjeng.

    ReplyDelete
  27. indahnya bisa traveling dan rekreasi bersama keluarga tercinta.

    ReplyDelete
  28. Cerita pengalaman yang menarik. Membaca kisah tersebut bisa dijadikan pelajaran berharga bagi kita bagaimana sebaiknya bersikap dan bertindak ketika mengalami suatu kejadian,

    ReplyDelete