CORONA MEMBAWA DUKA (24 )




Sri Sugiastuti

Bu Kanjeng kali ini ingin berbagi kisah Pak Saleh. Pak  Saleh yang baru saja meninggal dunia. Ia meninggal karena dampak Corona. Tanpa terpapar, sebagai ODP ataupun PDP. Pak Saleh salah satu jamaah masjid Al Fath  di  tempat Bu Kanjeng tinggal, menghembuskan napasnya di rumah.    Ia pergi dengan membawa rasa kecewa yang mendalam di usianya yang 70 tahun.

Mungkin itu sudah takdirnya. Bu Kanjeng tetap menghimpun kronologi meninggalnya Pak Saleh. Ia yakin ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah meninggalnya Pak Saleh. Kisah ini bisa jadi bahan renungan Bu Kanjeng dan pembaca. Betapa kematian itu sangat dekat dan sesuai dengan antriannya masing-masing.

Konon malaikat hadir ke rumah hamba Allah sebanyak 70 kali setiap hari. Malaikat itu siap kapan saja mencabut nyawa manusia yang sudah ada catatannya di tangan malaikat. Jadi siapa pun dia dan apapun jabatannya kalau sudah dapat panggilan tak bisa dimajukan atau dimundurkan satu detik pun.

Pak Saleh seorang kakek yang sudah ditinggal istrinya terlebih dahulu. Ia punya dua anak. Satu anak perempuan tinggal beda kampung di Solo. Satu anak laki-laki di Bekasi. Karena kesepian, salah satu cucu Pak Saleh ada kuliah di Solo, akhirnya tunggal bersama Pak Saleh..Sang cucu pun  menemani Pak.Saleh.

Pak Saleh merasa terhibur. Hatinya senang, ada cucu yang bisa diajak ngobrol dan dimintai tolong. Sampai akhirnya Corona datang..Harusnya jelang Ramadan hatinya gembira. Hari Raya segera tiba. Anak cucunya akan berkumpul semua. Namun kenyataannya berbeda. Belum sampai Hari Raya maut telah menjemput.

Cucu yang disayang tiba-tiba menghilang.  Menghilangnya Cucu Pak Saleh yang sudah kuliah itu membuat Pak Saleh kaget. Karena yang membawa lari Cucunya itu tak lain dan tak bukan adalah anak Pak Saleh sendiri yang tinggal di Bekasi.  Kok bisa? Kenyataannya seperti itu.

Anak Pak Saleh saat PSBB berlangsung, karena takut anaknya kena Corona di Solo atau takut Hari Raya tidak bisa pulang, maka secara sembunyi-sembunyi menjemput anaknya di Solo. Ia bisa lolos dari pantauan  dan sampai Solo. Tanpa turun dari mobil menemui ayah, ia langsung membawa anaknya pulang ke Bekasi.   Anak Pak Saleh takut kena masalah kalau ia ketahuan dari Bekasi pasti akan di karantina 14 hari  di tempat yang sudah disediakan Wali kota Solo. Itulah sebabnya ia rela tidak menemui ayahnya.

Sejak peristiwa itu Pak Saleh menarik diri. Tidak keluar rumah. Namun ia sempat menyerahkan uang tabungannya ke takmir masjid.dengan pesan untuk korban Corona. Keadaan Pak Saleh semakin memprihatinkan. Ia sulit diajak komunikasi. Pandangannya kosong seperti orang menahan rasa kecewa yang dalam.

Ia dibawa ke Rumah Sakit, tetapi tidak ada perubahan yang berarti. Sempat salah satu anaknya berusaha agar antara cucu dan anaknya.di Bekasi bisa komunikasi via gawai..Ternyata tidak berhasil. Saat dihubungi selalu dalam keadaan sibuk.

Akhirnya malaikat datang menyabut nyawa Pak Saleh, tanpa menunggu PSBB berakhir. Artinya anak dan cucu yang di Bekasi pun tidak bisa memberi penghormatan terakhir kepada sang Kakek. Pak Saleh pergi dengan membawa duka.


Kodratullah memang harus seperti itu skenario yang Allah buat. Dan Bu Kanjeng menyakini kepergian Pak Saleh memang harus menjalani lakon seperti itu. Kehidupan di dunia ini memang sudah ada yang  mengatur.  Ada scenario ada sutradara juga ada panggungnya.

Jadi andai dunia ini panggung sandiwara Allah lah sutradaranya. Yang terpenting menurut Bu Kanjeng bagaimana menjaga keistikamahannya untuk taat pada-Nya

#Duniamelawancorona
#Catatanharianselamacovid-19
#Soloraya07052020

Comments

  1. Bu Kanjeng memang luar biasa keren

    ReplyDelete
  2. Nangis bacanya, seperti sy menangis tadi malam. Ibu dari sahabat saya meninggal akibat corona. Ia langsung di kubur malam malam, sementara keluarga yg lain masih dalam pemeriksaan di rumah sakit. Menyedihkan sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Corona membawa duka. Sampai hati seorang anak, sudah samapi rumah orang tuanya tidak masuk rumah tetapi membawa anaknya tanpa memberi tahu. Jelas Bapaknya kecewa

      Delete
  3. kordrat manusia yang hidup selalu ada akhirnya yaitu kematian. Siapa kita yang menentukan cara kematian? Bila ada yang mengakhiri hidupnya sendiri, tentulah ada akibat yang diraihnya nanti. Bila ada yang meninggal secara normal atau keadaan luar biasa, itulah kodrat, seperti pak Saleh.
    Mantap ceritanya. Salam Literasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Pak Saleh pergi membawa duka , anak dan cucunya karena takut Corona rela meninggalkannya

      Delete
  4. Allahummaghfirlahuu warhamhu waafihu wa'fuanhu buat Pak Saleh

    ReplyDelete
  5. Sebagai anak yang baik.Seharusnya anak pak saleh membawa serta Pak saleh k rumah nya agar bisa memantau kesehatan nya.
    Tapi tak pernah ada yang tahu skenario Allah. Semoga ada hikmah di balik kejadian meninggal ny pak saleh

    ReplyDelete
  6. Sedih bacanya. Semoga Pak Soleh husnul khatimah. Al-Fatehah untuk Pak Soleh.

    ReplyDelete
  7. semoga pak Saleh yang sholih husnul khotimah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

CATATAN EDITOR DAN APRESIASI

JADILAH PEREMPUAN HEBAT TANPA MELUPAKAN KODRAT