BILANG SAJA SAYA SUDAH MATI ( SEBUAH TESTIMONI UNTUK SAHABAT)

Doc.Pribadi Penulisnya

dari sebuah Antologi cerpen karya Aster Belli Bora


Perkenalan saya dengan Penulis ini  bagian dari ajang silahturahmi, sekaligus sebagai bukti bahwa kami punya passion yang sama “Menulis”. Tidak heran bila kami pun saling support dan bertukar link, untuk bisa berbagi tulisan.  Dan akhirnya saya kecanduan dengan tulisan seorang Aster Billi Bora yang berserak di Harian Pos Kupang, Victorynews, Timor Express, ExpoNTT.

Saya berpendapat seorang jurnalis ketika menulis cerpen, punya  rasa berbeda. Hal ini  sangat terasa di dalam buku Antologi ini. Tentu saja ini satu kehormatan buat saya bisa lebih awal menelanjangi buku ini dan menikmati sensasinya. Mata, hati dan pikiran saya diajak untuk paham dengan pernak-pernik kehidupan yang dialami oleh hamba Allah dengan segala paket kehidupan.

Kisah yang digali dan diadopsi dari kisah nyata dengan bumbu tulisan ala seorang jurnalis sangat kental di dalam buku ini. Penulis yang berasal dari Sumba, di mana  bagian dari salah satu pulau terindah di nusantara mampu menginspirasi saya sebagai pembaca pertama. Penulis  bercerita tentang berbagai macam masalah sosial-budaya masyarakat lokal. Bagaimana kejelian seorang jurnalis mengamati tentang berita pencurian, pembunuhan, pesta adat, dan cara pandang tradisional menjadi kisah nyata yang menarik. 

Buku dengan judul yang penuh sensasi ini bukan basa-basi. “Bilang Saja Saya Sudah Mati”  salah satu penggalan dari kalimat yang ada dari sebuah kisah seorang TKW yang hampir putus asa karena impian dan kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hukum adat yang membelenggu bagaimana ia harus taat atau tawar menawar dengan adat yang berlaku.

Pada tulisan naskah bagian  akhir ada subjudul  “ Kamu Suruh Saya Cepat Mati.” Suatu kisah yang sarat makna. Saya terharu  kedekatan seorang msntu dan mertuanya. Sebaiknya  saya kutip di sini. 

"Kepala pintar, simpan baik-baik isi kaleku, sehingga tidak harus cari!” Biasanya Inna pasti melakukan perlawanan dengan mengejar istri saya. Setelah menghindar beberapa meter, istri saya berhenti dan sorong pantatnya supaya dijotos beberapa kali. Sialnya, kalau kebetulan pas keluar kentut dan bunyinya jauh lebih besar daripada pukulan tinju, maka keduanya tertawa ngakak sampai keluar air mata dan sakit perut."

Suatu buku Antologi yang dikemas super duper, dibuka dengan kata kunci Mati dan ditutup juga dengan kata kunci Mati. Anda penasaran? Silakan  miliki bukunya.


Sri Sugiastuti, Penikmat buku


Post a Comment

5 Comments

  1. Masya BUNDA, Resensi yang berhasil, jadi penasaran??

    ReplyDelete
  2. Seandainya dilengkapi dengan Bahasa Indonesia, makin seru bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, yang digarismiring memang ada beberapa kosa kata yang seharusnya saya terjemahan. Kaleku katanya tas untuk menyimpan sirih dll, perlengkapan makan sirih.

      Delete
  3. Bu Kanjeng emang top. Sangat-sangat penasaran jadinya.

    ReplyDelete