Sekolah Kecil dan Bantuan


Sekolah Kecil dan Bantuan

Oleh:Sri Sugiastuti 

Acin...yang jauh di mata tetapi dekat di doa.
Boleh ya, ibumu curhat masalah sekolah tempat ibu mengabdi selama hampir 35 tahun. Sekolah itu SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta.  Memang secara resmi, ibu sebagai ASN yang diangkat pada tahun 1986,  sudah purna. Tepatnya per 1 Mei 2021. Namun, pada kenyataannya ibu masih sering ke sekolah dan diberi tanggung jawab mengelola dan mendampingi hidup dan matinya sekolah tersebut. Itu satu amanah yang harus ibu emban sampai hari ini. Surat permohonan mengundurkan diri juga sudah ibu kirim, tetapi jawaban yang ibu dapatkan supaya ibu bersabar sampai ada pengganti yang dianggap cocok.

Amanah itu jadi bagian dari yang ngeri-ngeri sedap. Sangat terasa saat PPDB dan kala menunggu dana BOS yang kadang telat cair. Tetapi falsafah ibu dengan konsep "pas-pasan", alhamdulillah pas dibutuhkan pas ada. Tentu saja ini bukan satu kebetulan. Ada tangan Allah yang ikut bekerja. Alhamdulillah tidak terasa ini sudah memasuki tahun ke 6. Sekolah ini harus bertahan dari gemburan SMK Negeri yang bermunculan di setiap kecamatan, juga SMKN yang ada di kota dan selalu membuka jurusan baru.

Acin... ibu nikmati saja semua prosesnya. Selama passion menulis, silahturahmi dan juga traveling tetap menjadi yang menggairahkan dalam sisa usia ibu. Ibmu tetap bersemangat. Setiap perubahan yang kadang tidak sesuai dengan harapan pun, harus ibu nikmati. Contohnya saat ibu kecewa dengan Mas Kino yang panjang akal. Karena dia terlalu repot kalau harus menyapu halaman sekolah tiap hari, ia pun membuat pohon menjadi  kering tanpa daun-daun yang tumbuh. Tentu saja Sekolah jadi terlihat gersang. Hidup enggan mati tak mau. Rasa marah itu bisa meledak,  bila tidak segera istiqfar.

Menghadapi teman sejawat yang sudah membersamai puluhan tahun, tidak membuat ibu stres. Apa sebabnya?  Karena ibu paham ilmunya. Ibu masih bisa melihat pohon- pohon lain yang tumbuh subur di sekitar halaman sekolah. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Ibu harus bisa menerima mereka dengan segala plus minusnya. Bukankah Ibu dalam memimpin mereka juga memiliki banyak kekuarangannya. Saat  Ibu renungkan maka semua akan baik-baik saja.

Acin... ibu sangat menyadari  bahwa sekolah yang ibu pimpin masuk kategori sekolah kecil sekolah ikan teri. Sekolah dengan Rombel minimalis. Ibu bertahan di Sekolah itu sejak tahun 1990 hingga kini. Tak heran bila Sekolah ini menjadi rumah  ke dua ibumu. Walaupun sederhana, ibu merasa nyaman dalam banyak hal.

Sejak ibu memimpin sekolah ini, bantuan dari pemerintah yang berupa hibah atau pun sejenisnya tak pernah kecipratan. Padahal zaman  Kepala Sekolah lama yang 17 tahun memimpin ada banyak bantuan baik berupa dana Cash maupun berupa alat. Zaman  sudah berubah. Era digital dan Pandemi Covid-19 ikut mewarnai banyak perubahan di setiap lini. Apakah hal ini membuat ibu mengeluh dan putus asa? Jawabnya "Tidak". Allah punya cara tersendiri agar sekolah ini eksis. Prinsip "Pas-pasan"  sepertinya masih bersahabat dengan ibumu.

Acin... perlu direnungkan ya dan juga bayangkan ketika  suasana hati ibu mendapat hembusan angin surga. Ibumu tersenyum bahagia dengan penuh hara. Pasalnya sekolah yang diamanahi kepada ibu akan mendapat bantuan. Ibu pun menduga hal ini ada hubungannya dengan tahun politik (seharusnya ibu tidak berburuk sangka). Bantuan dari BosKin (Bantuan untuk Kinerja). Nominalnya 45 juta rupiah. Lalu ada lagi bantuan hibah provinsi berupa multi media, peralatan bengkel dan meubelier senilai 135 juta. 

Tidak hanya itu saja Cin...belum lama ini ada juga harapan- harapan lain yang masih berupa draf kerjasama. Ada kerjasama dalam waktu dekat dimana sekolah ibu menyediakan tempat untuk kursus singkat  bagi para  Peserta yang beruntung dapat fasilitas Prakerja. Itu loh program pemerintah di saat Covid-19. Mou sudah ibu tandatangani, tetapi dananya belum cair. Jadi harapan itu masih menggantung entah dimana. Intinya memang harus sabar. Insyaallah bila itu rezeki warga sekolah tentu ngga akan tertukar.

Nah, masih ada nih satu harapan lain yang juga akan menguntungkan pihak sekolah. Tentang pagar sekolah bagian belakang yang berbatas dengan Taman Balekambang. Pihak pengembang berkunjung ke sekolah. Intinya minta izin akan membuat pagar yang kuat dan permanen. Konon, Taman Balekambang mau meniru konsep Jatim-Park. Membayangkan sekolah dengan pagar yang kuat membuat ibu tersenyum bahagia.

Sekarang saatnya ibu menunggu takdir baik yang akan hadir membersamai SMK yang diamanahi pada ibu. Doakan ya !

Surakarta Hadiningrat, 15 September  2023.

Post a Comment

16 Comments

  1. Waduh apik tulisan Bu Kanjeng...
    Apa pun yg Bunda tulis pasti bagus...mengalir...semoga menyebar bak virus...
    Barakallah...

    ReplyDelete
  2. Kesabaran membuahkan hasil positip, apa pun wujudnya. Termasuk harapan adanya bantuan....selamat Bun...mengembangkan sekolah kecil dengan jiwa besar.

    ReplyDelete
  3. Perjuangan yang tiada akhir. Teruslah berjuang walau lelah, letih, tetap sabar dan ilhlas. Gusti Allah Yang Welas pasti akan membalas. Aamiiin

    ReplyDelete
  4. Ya Allah, ternyata Bunda masih wira-wiri. Allah pilih Bunda untuk membersamai sekolah tersebut. Semoga sukses Bunda...
    Sehat salalu.. Amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa ...ceritanya sangat menginspirasi kita πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“

      Delete
    2. Alhamdulillah . Semoga sekolah ini bisa eksis

      Delete
  5. omjay sdh pernah ke sekolah bunda kanjeng, jadi bisa membayangkan keadaanya sekarang. Semoga sekolahnya masih bisa bertahan dan menciptakan tenaga kerja yang siap kerja di perusahaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu yang menjadi harapan kami. Akan mendapat bantuan hati ini berbunga bunga

      Delete
  6. Masa purna yang terus memesona. Mempernuangkan sekolah penuh syukur, dan sabar, serta dengan bahasa yang aduhai. Terimakasih Bun! Hebat! Tulisan yang selalu keren dan bermanfaat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Bu KS Mimin ikut hadir disini. Salam sehat penuh dedikasi

      Delete